Back

ⓘ Sumatra Kalér




Sumatra Kalér
                                     

ⓘ Sumatra Kalér

Sumatra Kalér atawa Sumatera Utara nyaéta hiji propinsi nu aya di Pulo Sumatera, wawatesan jeung Acéh di beulah kalérna sarta Sumatra Kulon jeung Riau di kiduleunnana.

Provinsi ini terutama merupakan kampung halaman suku bangsa Batak, yang hidup di pegunungan dan suku bangsa Melayu yang hidup di daerah pesisir timur. Selain itu juga ada suku bangsa Jawa, Nias, Mandailing dan Tionghoa.

                                     

1. Geografi

Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° - 4° Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur, yang pada tahun 2004 memiliki 18 Kabupaten dan 7 kota, dan terdiri dari 328 kecamatan, secara keseluruhan Provinsi Sumatera Utara mempunyai 5.086 desa dan 382 kelurahan. Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 71.680 km², Sumatera Utara tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan.

                                     

2.1. Kondisi dan sumber daya alam Kondisi alam

Sumatra Utara pada dasarnya dapat dibagi atas:

  • Pulau Samosir di danau Toba.
  • Pesisir barat
  • Kepulauan Batu.
  • Pegunungan Bukit Barisan
  • Kepulauan Nias.
  • Pesisir timur

Pesisir timur merupakan wilayah di dalam provinsi yang paling pesat perkembangannya karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah lainnya.

Di daerah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan ini ada beberapa dataran tinggi yang merupakan kantong-kantong konsentrasi penduduk. Daerah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir juga menjadi tempat tinggal penduduk yang menggantungkan hidupnya kepada danau ini.

Di pesisir barat relatif tertinggal dan merupakan titik berat pemwangunan sejak pemerintahan Gubernur Raja Inal Siregar dengan program pemwangunannya yang terkenal, Marsipature Hutana Be disingkat Martabe atau MHB. Pesisir barat biasa dikenal sebagai daerah Tapanuli.

Terdapat 419 pulau di propisi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar adalah pulau Simuk kepulauan Nias, dan pulau Berhala di selat Malaka.

Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di Samudera Hindia. Pusat pemerintahan terletak di Gunung Sitoli.

Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini, Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulautelo di pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak di tenggara kepulauan Nias.

Pulau-pulau lain di Sumatera Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake, dan Sigata, Wunga.

                                     

2.2. Kondisi dan sumber daya alam Sumber daya alam

Sumatera Utara kaya akan sumber daya alam berupa gas alam di daerah Tandam, Binjai dan minyak bumi di Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat yang telah dieksplorasi sejak zaman Hindia Belanda.

Selain itu di Kuala Tanjung, Kabupaten Asahan juga terdapat PT Inalum yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara.

Sungai-sungai yang berhulu di pegunungan sekitar Danau Toba juga merupakan sumber daya alam yang cukup berpotensi untuk dieksploitasi menjadi sumber daya pembangkit listrik tenaga air. PLTA Asahan yang merupakan PLTA terbesar di Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir.

Selain itu, di kawasan pegunungan terdapat banyak sekali titik-titik panas géotermal yang sangat berpotensi dikembangkan sebagai sumber énérgi panas maupun uap yang selanjutnya dapat ditransformasikan menjadi énérgi listrik.

                                     

3. Penduduk

Sumatera Utara merupakan provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonésia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk SP 1990 penduduk Sumatera Utara pada tanggal 31 Oktober 1990 hari sensus berjumlah 10.81 juta jiwa, dan pada tahun 2002, jumlah penduduk Sumatera Utara diperkirakan sebesar 11.85 juta jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara tahun 1990 adalah 143 jiwa per km² dan tahun 2002 meningkat menjadi 165 jiwa per km², sedangkan laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu tahun 1990-2000 adalah 1.20 persen per tahun.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja TPAK Sumatera Utara setiap tahunnya tampak berfluktuasi. Pada tahun 2000 TPAK di daerah ini sebesar 57.34 persen, tahun 2001 naik menjadi 57.70 persen, tahun 2002 naik lagi menjadi 69.45 persen.

                                     

4.1. Sosial kemasyarakatan Suku bangsa

Suku Bangsa Sumatera Utara adalah provinsi multietnis dengan suku Melayu, Batak dan Nias sebagai penduduk asli daerah ini. Karena merupakan daerah perkebunan tembakau sejak zaman Hindia Belanda karenanya merupakan tujuan pendatang luar untuk mencari pekerjaan. Pendatang-pendatang terutama datang dari Pulau Jawa yang datang karena kontrak kuli dengan pemerintah Hindia Belanda. Ada pula pendatang Tionghoa yang datang merantau mengadu nasib untuk kemudian menetap di sini. Penyebaran suku-suku di Sumatra Utara: Suku Melayu Deli: Pesisir Timur; Suku Batak Karo: Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Dairi, dan Dataran Tinggi Karo; Suku Batak Toba: sekitar Danau Toba, Pulau Samosir, dan Pesisir Barat; Suku Batak Simalungun: daerah Kabupaten Simalungun; Suku Batak Pakpak: daerah Dairi dan Pakpak Barat; Suku Batak Mandailing: daerah Tapanuli Selatan dan Madina; Suku Aceh: Pesisir Timur; Suku Nias: Kepulauan Nias; Suku Jawa: pesisir Timur; dan Suku Tionghoa: perkotaan di pesisir Timur. Bahasa Pada dasarnya, bahasa yang dipergunakan secara luas adalah bahasa Indonésia. Suku Melayu Deli mayoritas menuturkan bahasa Indonésia karena kedekatan bahasa Melayu dengan bahasa Indonésia. Namun di pesisir timur, masih banyak keturunan Jawa yang menuturkan bahasa Jawa yang sudah terdegradasi tentunya. Di kawasan perkotaan, suku Tionghoa lazim menuturkan bahasa Hokkian selain bahasa Indonésia. Di pegunungan, suku Batak menuturkan bahasa Batak yang terbagi atas banyak logat. Bahasa Nias dituturkan di Kepulauan Nias oleh suku Nias.

Agama utama di Sumatra Utara adalah: Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu Deli, suku Mandailing, suku Jawa; Kristen Protestan dan Katolik: terutama dipeluk oleh suku Batak dan suku Nias; Hindu: terutama dipeluk oleh keturunan India yang minoritas di perkotaan; Buddha: terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan; dan Animisme: masih ada dipeluk oleh mayoritas suku Batak dan Nias. Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2005 umat Islam adalah kelompok agama terbesar 7.530.839 jiwa; terbanyak di Sumatera, diikuti Protestan 3.062.965 jiwa; terbanyak di Indonésia, Katolik 550.456 jiwa, Buddha 324.864 jiwa; terbanyak kedua di Indonésia setelah Jawa Barat, dan Hindu 21.329 jiwa.



                                     

4.2. Sosial kemasyarakatan Bahasa

Pada dasarnya, bahasa yang dipergunakan secara luas adalah bahasa Indonesia. Suku Melayu Deli mayoritas menuturkan bahasa Indonésia karena kedekatan bahasa Melayu dengan bahasa Indonésia. Namun di pesisir timur, masih banyak keturunan Jawa yang menuturkan bahasa Jawa yang sudah terdegradasi tentunya.

Di kawasan perkotaan, suku Tionghoa lazim menuturkan bahasa Hokkian selain bahasa Indonésia. Di pegunungan, suku Batak menuturkan bahasa Batak yang terbagi atas banyak logat.

Bahasa Nias dituturkan di Kepulauan Nias oleh suku Nias.

                                     

4.3. Sosial kemasyarakatan Ageman

Ageman utama di Sumatra Utara nyaéta:

  • Buddha: terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan
  • Kristen Protestan dan Katolik: terutama dipeluk oleh suku Batak dan suku Nias
  • Hindu: terutama dipeluk oleh keturunan India yang minoritas di perkotaan
  • Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu Deli, suku Mandailing, suku Jawa
  • Animisme: masih ada dipeluk oleh mayoritas suku Batak dan Nias

Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2005 umat Islam adalah kelompok agama terbesar 7.530.839 jiwa; terbanyak di Sumatera, diikuti Protestan 3.062.965 jiwa; terbanyak di Indonésia, Katolik 550.456 jiwa, Buddha 324.864 jiwa; terbanyak kedua di Indonésia setelah Jawa Barat, dan Hindu 21.329 jiwa.

                                     

4.4. Sosial kemasyarakatan Pendidikan

Pada tahun 2005 jumlah anak yang putus sekolah di Sumut mencapai 1.238.437 orang, sementara jumlah siswa miskin mencapai 8.452.054 orang.

Dari total APBD 2006 yang berjumlah Rp 2.204.084.729.000, untuk pendidikan sebesar Rp 139.744.257.000, termasuk dalam pos ini anggaran untuk bidang kebudayaan.

Jumlah total kelulusan siswa yang ikut Ujian Nasional pada tahun 2005 mencapai 87.65 persen atau 335.342 siswa dari 382.587 siswa tingkat SMP/SMA/SMK sederajat peserta UN. Sedangkan 12.35 persen siswa yang tidak lulus itu berjumlah 47.245 siswa.

                                     

4.5. Sosial kemasyarakatan Kesehatan

  • Jumlah penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara hingga Oktober 2005 tercatat 301 orang, yakni 26 orang asing dan 276 warga negara Indonésia. Sementara jumlah korban yang HIV/AIDS yang meninggal dunia hingga Agustus 2005 berjumlah 34 orang.
  • Secara umum, angka penemuan kasus baru tuberculosis TBC di Sumatra Utara mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 kasus TBC diperkirakan berkisar 160/100.000 penduduk. Jika jumlah penduduk Sumatra Utara tercatat 12 juta jiwa, maka penderita TBC di daerah ini sebanyak 19.000.
                                     

4.6. Sosial kemasyarakatan Tenaga kerja

  • Angkatan Kerja. Pada tahun 2002 angkatan kerja di Sumut mencapai 5.276.102 orang. Jumlah itu naik 4.72% dari tahun sebelumnya. Kondisi angkatan kerja itu juga diikuti dengan naiknya orang yang mencari pekerjaan. Jumlah pencari kerja pada 2002 mencapai 355.467 orang. Mengalami kenaikan 57.82% dari tahun sebelumnya.
  • Angkatan Kerja. Penduduk yang tergolong angkatan kerja berjumlah 5.1 juta jiwa. Sekitar 34% berstatus sebagai majikan, bekerja sendiri 20%, dan pekerja keluarga 23%. Skala usaha tergambar pada komposisi yang didominasi oleh usaha kecil sekitar 99.8% dan hanya sekitar 0.2% yang tergolong usaha besar.
  • Tingkat Pengangguran Terbuka TPT. Jumlah TPT di Sumut naik dari 4.47% pada 2001 menjadi 6.74% pada 2002. TPT tertinggi terjadi di Kota Medan mencapai 13.28%, diikuti Kota Sibolga 11.71%, Kabupaten Langkat 11.06%, dan Kodya Tebing Tinggi 10.91%.
  • Pendidikan Pekerja. Tingkat pendidikan sebagian besar tenaga kerja. Pekerja yang berpendidikan tidak tamat sekolah dasar SD atau sampai tamat SD mencapai 48.96%. Lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama SLTP mencapai 23%. Sedangkan lulusan sekolah lanjutan tingkat atas SLTA mencapai 24.08%. Sementara itu, lulusan perguruan tinggi hanya 3.95%.


                                     

5. Pemerintahan

Pusat pemerintahan Sumatera Utara terletak di kota Medan. Sebelumnya, Sumatera Utara termasuk ke dalam Provinsi Sumatra sesaat Indonésia merdeka pada tahun 1945.

Pada tahun 1950. Provinsi Sumatera Utara dibentuk meliputi sebagian Aceh. Tahun 1956, Aceh dipisahkan menjadi Daerah Otonom dari Provinsi Sumatera Utara.

Sumatera Utara dibagi kepada 18 kabupaten, 7 kota dahulu kotamadya. 325 kecamatan, dan 5.456 kelurahan/desa.

                                     

6.1. Perekonomian APBD

Dari tahun ke tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD Sumatera Utara terus meningkat.

  • 2005 Rp 1.645.876.354.000
  • 2006 Rp 2.204.084.729.000
  • 2004 Rp 1.440.238.069.000

APBD 2006 memberikan alokasi Belanja publik Rp 1.577.946.416.580 71.59%, sedangkan belanja aparatur Rp 626.138.312.420 28.41%. Pos anggarannya antara lain:

  • Bidang pendidikan dan kebudayaan Rp 139.744.257.000
  • Bidang pertanian Rp 54.544.588.580
  • Bidang kesehatan Rp 131.338.927.000

Pada tahun 2006 ditargetkan Rp2.087 triliun. Angka tersebut diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah PAD Rp1.354 triliun, dana perimbangan Rp723.65 miliar, dan Lain-lain. Pendapatan yang sah sebesar Rp23.915 miliar. Khusus sektor PAD terdiri dari pajak daerah Rp 1.270 triliun, retribusi daerah Rp 10.431 miliar, laba BUMD sebesar Rp 48.075 miliar, dan lain-lain pendapatan Rp 25.963 miliar. Perolehan dari dana perimbangan meliputi Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar Rp 183.935 miliar dan Dana Alokasi Umum Rp 539.718 miliar. Sedangkan perolehan dari Lain-lain Pendapatan yang Sah diperoleh dari Iuran Jasa Air Rp 8.917 miliar.



                                     

6.2. Perekonomian Perbankan

Selain bank umum nasional, bank pemerintah sarta bank internasional, saat ini di Sumut terdapat 61 unit Bank Perkreditan Rakyat BPR dan 7 Bank Perkreditan Rakyat Syariaf BPRS di Sumatera Utara. Data dari Bank Indonesia menunjukkan, Pada Januari 2006, Dana Pihak Ketiga DPK yang diserap BPR mencapai Rp 253.366.627.000 dan kredit mencapai Rp 260.152.445.000. Sedangkan aktiva aset menapai Rp 340.880.837.000.

                                     

6.3. Perekonomian Pertanian dan perkebunan

Luas daratan Provinsi Sumatra Utara 71.680 km². Provinsi ini tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. BUMN Perkebunan yang aréalnya terdapat di Sumatera Utara, antara lain PT Perkebunan Nusantara II PTPN II, PTPN III dan PTPN IV.

  • Produk Pertanian. Sumatra Utara menghasilkan karet, cokelat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan.
  • Irigasi. Luas irigasi teknis seluruhnya di Sumatera Utara seluas 132.254 ha meliputi 174 Daerah Irigasi. Sebanyak 96.823 ha pada 7 Daerah Irigasi mengalami kerusakan sangat kritis.
  • Luas perkebunan karet. Tahun 2002 luas aréal tanaman karet di Sumut 489.491 hektar dengan produksi 443.743 ton. Sementara tahun 2005, luas aréal karet menurun atau tinggal 477.000 hektar dengan produksi yang juga anjlok menjadi hanya 392.000 ton.
  • Luas pertanian padi. Pada tahun 2005 luas aréal panen tinggal 807.302 hektar, atau turun sekitar 16.906 hektar dibanding luas tahun 2004 yang mencapai 824.208 hektar. Produktivitas tanaman padi tahun 2005 sudah bisa ditingkatkan menjadi berkisar 43.49 kwintal perhektar dari tahun 2004 yang masih 43.13 kwintal per hektar, dan tanaman padi ladang menjadi 26.26 kwintal dari 24.73 kwintal per hektar. Tahun 2005, surplus beras di Sumatera Utara mencapai 429 ton dari sekitar 2.1.27 juta ton total produksi beras di daerah ini.

Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonésia. Selain komoditas perkebunan, Sumatra Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas holtikultura sayur-mayur dan buah-buahan; misalnya Jeruk Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel yang dihasilkan oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.

                                     

6.4. Perekonomian Sarana dan prasarana

Pemerintah Provinsi Pemprov Sumatra Utara juga sudah membangun berbagai prasarana dan infrastruktur untuk memperlancar perdagangan baik antarkabupaten maupun antarprovinsi. Sektor swasta juga terlibat dengan mendirikan berbagai properti untuk perdagangan, perkantoran, hotel dan lain-lain. Tentu saja sektor lain, seperti koperasi, pertambangan dan énérgi, industri, pariwisata, pos dan télékomunikasi, transmigrasi, dan sektor sosial kemasyarakatan juga ikut dikembangkan. Untuk memudahkan koordinasi pemwangunan, maka Sumatra Utara dibagi ke dalam empat wilayah Pemwangunan.

                                     

6.5. Perekonomian Hutan

Di Sumatera Utara saat ini terdapat dua taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Lueser dan Taman Nasional Batang Gadis. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan, Nomor 44 Tahun 2005, luas hutan di Sumatera Utara saat ini 3.742.120 hektar ha. Yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam seluas 477.070 ha, Hutan Lindung 1.297.330 ha, Hutan Produksi Terbatas 879.270 ha, Hutan Produksi Tetap 1.035.690 ha dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi seluas 52.760 ha.

Namun angka ini sifatnya secara dejure saja. Sebab secara defacto, hutan yang ada tidak seluas itu lagi. Terjadi banyak kerusakan akibat perambahan dan pembalakan liar illegal logging. Sejauh ini, sudah 206.000 ha lebih hutan di Sumut telah mengalami perobahan fungsi. Telah berobah menjadi lahan perkebunan, transmigrasi. Dari luas tersebut, sebanyak 163.000 ha untuk aréal perkebunan dan 42.900 ha untuk aréal transmigrasi.

                                     

6.6. Perekonomian Pertambangan

Ada tiga perusahaan tambang di Sumatra Utara:

  • PT. Sorikmas Mining SMM.
  • Sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing. Sebanyak 25 persen sahamnya dimiliki PT Aneka Tambang, Badan Usaha Milik Negara BUMN di bidang pertambangan. Sedangkan 75 persen lagi dimiliki Aberfoyle Pungkut Investment Pte Ltd. Perusahaan ini berada di Singapura, namun sahamnya dimiliki Aberfoyle Resources Limited/Western Metal Copper Limited dari Australia. SMM merupakan perusahaan pemegang kontrak karya generasi VII tertanggal 19 Februari 1998. Perusahaan ini bergerak dalam bidang usaha pertambangan emas dan mineral pengikut lainnya. Awalnya, wilayah kontrak karya SMM di Kabupaten Madina seluas 201.600 ha. Namun setelah dua kali diciutkan, luas konsesinya kini menjadi 66.200 ha, atau tinggal 32.82 persen saja. Proses eksplorasi dimulai sejak 19 Februari 1999. Dari luas total saat ini, ternyata sebagian besar justru tumpang tindih dengan kawasan TNBG. Ini terjadi karena pada 29 April 2004 Menteri Kehutanan, saat dijabat Muhammad Prakosa, menetapkan pembentukan TNBG dengan luas 108 ribu ha melalui putusan SK No 126/Menhut-II/2004. Batas tetapnya akan ditentukan setelah diadakan penetapan batas di lapangan.
  • Perusahaan patungan yang dimiliki oleh Newmont 90% dan PT Austindo Nusantara Jaya 10% dan didirikan untuk kegiatan eksplorasi dan operasi tambang yang terletak di Wilayah Kontrak Karya Martabe, Sumatera Utara. Pelaksanaan proyek Martabe dilandasi Kontrak Karya antara Pemerintah Indonésia dan PT Danau Toba Mining Normandy yang ditandatangani pada 28 April 1997. Lokasi wilayah Kontrak Karya terletak di kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dengan diakuisisinya Normandy oleh Newmont pada Februari 2002, maka pengelolaan proyek ini dilakukan oleh PTNHN. Normandy menemukan Martabe pada 1997 melalui kegiatan tindak lanjut atas anomali endapan aliran emas dengan menggunakan teknologi géokimia BLEG. Martabe memiliki beberapa sasaran eksplorasi termasuk yang paling potensial seperti prospek Tor Sipalpal Purnama dan prospek yang lain meliputi Gunung Barani Pelangi, Ramba Joring Baskara dan Tor Uluala Kejora. Prospek-prospek ini membentang dengan jarak lebih dari 6 km. Mineralisasi emas di Martabe mempunyai kesamaan jenis dengan di Yanacocha, Peru, karena emas berasosiasi dengan tubuh bijih silika terlindih dan mengandung breccia yang berukuran besar yang berinduk pada daerah alterasi lempung. Saat ini Martabe sedang menjalani studi pra-kelayakan termasuk studi rona awal dampak lingkungan. Proyek Martabe sedang dalam tahap eksplorasi akhir dan apabila program eksplorasi lanjutan berhasil maka akan segera masuk ke tahap studi kelayakan. Pada 2003, program eksplorasi akan difokuskan di Purnama. Kegiatan pemboran saat ini juga memperluas daerah mineralisasi Purnama ke arah utara, pengujian daerah yang belum banyak diselidiki antara Purnama dan Baskara sarta beberapa lubang penelitian di Baskara. Sampai Oktober 2003, sekitar 262 lubang bor telah diselesaikan pada proyek Martabe. Program pemboran akan diselesaikan pada November 2003, meskipun eksplorasi akan berlanjut sampai awal 2004 dan dijadwalkan selesai pada Mei 2004.
  • PT Newmont Horas Nauli PTNHN.
  • Sebagian konsesinya berada pada kawasan hutan lindung seluas kurang lebih 18.170 hektar dari luas total konsesi seluas 22.030 hektar. Perusahaan ini akan segera melakukan eksplorasi bahan galian Pb timah hitam dan Zn seng di Batang Toru, Tapanuli Selatan. Sahamnya dimiliki oleh Herald Resources Ltd. Australia 30%, dan International Annax Ventures, Kanada 70%.
  • PT Dairi Prima Mineral.
                                     

6.7. Perekonomian Transportasi

Di Sumatera Utara terdapat 2.098.05 kilométer jalan negara, yang tergolong mantap hanya 1.095.70 kilométer atau 52.22 persen dan 418.60 kilométer atau 19.95 persen dalam kéadaan sedang, selebihnya dalam kéadaan rusak. Sementara dari 2.752.41 kilométer jalan propinsi, yang dalam kéadaan mantap panjangnya 1.237.60 kilométer atau 44.96 persen, sementara yang dalam kéadaan sedang 558.46 kilométer atau 20.29 persen. Halnya jalan rusak panjangnya 410.40 kilométer atau 14.91 persen dan yang rusak berat panjangnya 545.95 kilométer atau 19.84 persen.

Dari sisi kendaraan, terdapat lebih 1.38 juta kendaraan roda dua dan empat di Sumatera Utara. Dari jumlah itu, sebanyak 873 ribu lebih berada di Kota Medan.

                                     

6.8. Perekonomian Ekspor & impor

Kinerja ekspor Sumatera Utara cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 tercatat perolehan devisa mencapai US$4.24 milyar atau naik 57.72% dari tahun sebelumnya dari sektor ini.

Ekspor kopi dari Sumatera Utara mencapai rekor tertinggi 46.290 ton dengan negara tujuan ekspor utama Jepang selama lima tahun terakhir. Ekspor kopi Sumut juga tercatat sebagai 10 besar produk ekspor tertinggi dengan nilai US$3.25 juta atau 47.200.8 ton périodeu Januari hingga Oktober 2005.

Dari sektor garmen, ekspor garmen cenderung turun pada Januari 2006. Hasil industri khusus pakaian jadi turun 42.59 persen dari US$ 1.066.124 pada tahun 2005, menjadi US$ 2.053 pada tahun 2006 pada bulan yang sama.

Kinerja ekspor impor beberapa hasil industri menunjukkan penurunan. Yakni furniture turun 22.83 persen dari US$ 558.363 2005 menjadi US$ 202.630 2006, plywood turun 24.07 persen dari US$ 19.771 menjadi US$ 8.237, misteric acid turun 27.89 persen yakni dari US$ 115.362 menjadi US$ 291.201, stéaric acid turun 27.04 persen dari US$ 792.910 menjadi US$ 308.020, dan sabun noodles turun 26 persen dari AS.689.025 menjadi US$ 248.053.

Kinerja ekspor impor hasil pertanian juga mengalami penurunan yakni minyak atsiri turun 18 persen dari US$ 162.234 menjadi US$ 773.023, hasil laut/udang, minyak kelapa dan kopi robusta juga mengalami penurunan cukup drastis hingga mencapai 97 persen. Beberapa komoditi yang mengalami kenaikan nilai di atas US$ Juta adalah biji kakao, hortikultura, kopi arabica, CPO, karet alam, hasil laut non udang. Untuk hasil industri yakni moulding, ban kendaraan dan sarung tangan karet.

                                     

7. Seni dan budaya

Tarian

  • Tor-tor- TARIAN INI JUGA MERUPAK TARIAN ADAT KEPADA KAUM BATAK.SEMASA MAJLIS PERKAHWINAN TARIAN INI AKAN DIPERSEMBAHKAN KEPADA TETAMU.TARIAN INI AKAN DIGAYAKAN DENGAN BAJU ADAT sarta KAINNYA SEKALIL.TARIAN INI AKAN DITARIKAN DENGAN LENGOK YANG PERLAHAN.
  • Serampang XII
                                     
  • sahiji kacamatan di Kabupatén Tapanuli Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia. Citakan: Kabupatén Tapanuli Kalér Citakan: Pangaribuan, Tapanuli Kalér
  • Simanosor nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Siranap nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Sipiongot nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Nabonggal nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Sinabongan nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Gumbot nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Simambal nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Sijorang nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Parigi nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Sibayo nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.
  • Siloung nyaéta salah sahiji Désa di kacamatan Dolok, Kabupatén Padang Lawas Kalér Propinsi Sumatra Kalér Indonésia.

Users also searched:

...
...
...